Prediksi Komposisi Kabinet SBY-Boediono

14 08 2009

JAKARTA – Meski sengketa Pilpres 2009 masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK), namun kabar peracikan calon menteri-menteri di kabinet mendatang sudah mulai santer terdengar. Siang ini, ada sebuah email membocorkan komposisi kabinet SBY-Boediono 2009-2014.

Memang belum dapat dipastikan keabsahan dari susunan kabinet SBY-Boediono tersebut. Namun dari nama-nama yang dimasukkan, terdapat sejumlah kader partai non-pendukung SBY-Boediono.

Berikut informasi Komposisi Kabinet SBY-Boediono 2009-2014 yang beredar lewat email:

Menteri Koordinator:

Menko Polhukam: Joko Soeyanto (mantan Panglima TNI)
Menko Perekonomian: Sri Mulyani Indrawati/Purnomo Yusgiantoro
Menko Kesra: Hatta Rajasa
Sekretaris Negara: Muhammad Nuh/Sudi Silalahi

Menteri Departemen:

Menteri Dalam Negeri: Mardiyanto/Sutiyoso /Sudi Silalahi
Menteri Luar Negeri: Theo Sambuaga/Marzuki Darusman
Wakil Menlu: Marty Natalegawa/Bara Hasibuan
Menteri Pertahanan: Agus Wijoyo/Syarif Hasan
Menteri Hukum dan HAM: Harkristuti Harkrisnowo/ Gayus Lumbun
Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati/Anggito Abimanyu
Wakil Menkeu: Muhammad Ikhsan
Menteri ESDM: Kuntoro Mangkusubroto/ Evita Legowo (Dirjen Migas)
Menteri Perindustrian: MS Hidayat (Ketua Umum KADIN)/Rachmat Gobel
Menteri Perdagangan: Chatib Basri/Faisal Basri
Menteri Pertanian: Herry Suhardiyanto (Rektor IPB)/Joyo Winoto (Kepala BPN)
Menteri Kehutanan: Taufik Efendy/Tjahyo Kumolo
Menteri Perhubungan: Jusman Syafei Jamal/Sutanto Soehondho/Tatang Kurniadi
Menteri Kelautan & Perikanan: Mohammad Jafar Hafsah/Mustafa Abubakar
Menteri Tenaga Kerja: Darwin Z Saleh/Jumhur Hidayat
Menteri Kesehatan: Dr dr Fahmi Idris
Menteri Pekerjaan Umum: Hermanto Dardak (Dirjen Bina Marga)/Iman Soedrajat
Menteri Pendidikan Nasional: Komaruddin Hidayat/Yohanes Soerya
Menteri Sosial: Hidayat Nur Wahid/Surya Dharma Ali
Menteri Agama: Muhaimin Iskandar/Kurdi Mustopha

Menteri Negara:

Menteri Kebudayaan & Pariwisata: Jero Wacik/Firmansyah Rahim/Christine Hakim
Menristek: Andy N Sommeang/Marzan A Iskandar
Menteri Koperasi & UKM: Muhaimin Iskandar/Arief Budimanta
Menteri Lingkungan Hidup: Jhony W Soedharsono
Menteri Pemberdayaan Perempuan: Kartini Syahrir/Puan Maharani/Meutia Hatta
MenPAN: Marzukie Alie/Agus Wijoyo
Menteri PDT: Lukman Edi/Pramono Anung
Menteri Perencanaan Pemb.Nas: Purnomo Yusgiantoro/ Bambang PS Brjojonegoro
Menteri BUMN: Raden Pardede/Chatib Basri/Emirsyah Satar
Menteri Kominfo: Andi Malarangeng
Menpora: Anas Urbaningrum/ Andi Malarangeng
Menpera: Zulkifli Hasan/Marzuki Alie

Pejabat Tinggi Setingkat Menteri:

Jaksa Agung: Marwan Efendi/Marsilam Simanjuntak
Kepala BIN: Marsilam Simanjuntak/ Luhut Panjaitan
Sekretaris Kabinet: Setia Purwaka/Kurdi Mustopha
Juru Bicara Presiden Urusan Dalam Negeri: Syaiful Mudjani/Andi Arief
Juru Bicara Presiden Urusan Internasional: Bara Hasibuan (ahm)

Sumber: http://pemilu. okezone.com/ read/2009/ 08/07/268/ 245956/komposisi -kabinet- sby-boediono- beredar-di- email





APAKAH PERBEDAAN BAHAN AJAR DAN SUMBER BELAJAR ?

21 07 2009

Dalam kegiatan penyusunan perangkat pembelajaran Sering dijumpai istilah bahan ajar ataupun sumber belajar , sepintas kedua istilah tersebut sering di anggap memiliki pengertian yang sama. Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda.

Apakah Sumber belajar Itu ?

Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.
Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/ asleares.htm January 28, 1999. (Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.)
Dengan demikian maka sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

Klasifikasi Sumber Belajar

Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
f. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.

Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa

Apakah Bahan Ajar itu ?

Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa Bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan.

Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA pada website-nya, WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.(Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif.)

Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:
Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach.(Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.)

Klasifikasi Bahan Ajar

Pengelompokan bahan ajar menurut Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut :
Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University respectively). http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfapeople/peraya.html>http:// tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa-people/ peraya.html, Faculté de Psychologie et all..des Sciences de l’Education Université de Genève. Beberapa macam Bahan ajar
1. Media tulis,
2. audio visual, elektronik, dan
3. interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix.
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar,
1. pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfunk),kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte).
2. Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung).
3. Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan gambar (Tonbildschau),dan film/video.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain :
a. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b. Kompetensi yang akan dicapai
c. Content atau isi materi pembelajaran
d. Informasi pendukung
e. Latihan-latihan
f. Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g. Evaluasi
h. Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

Semoga dengan tulisan ini dapat digunakan untuk mengecek kembali apakah pembuatan dokumen silabus dan RPP yang selama ini digunakan sudah tepat .
Untuk mengetahui bagaimanakah menyusun bahan ajar dan rambu rambu yang harus di atati dalam prosedur penyusunannya kunjungi http://www.scribd.com/endahsulistyowati

Semoga bermanfaat
Selamat berkarya .





Prosedur Penyusunan RPP sesuai Standar Proses

16 07 2009

A. Apakah RPP itu?

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:
”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke¬giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

B. Apa Saja Komponen RPP itu ?

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Komponen RPP adalah:
1. Identitas mata pelajaran, meliputi:
a. satuan pendidikan,
b. kelas,
c. semester,
d. program studi,
e. mata pela¬jaran atau tema pelajaran,
f. jumlah pertemuan.
2. standar kompetensi
merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. kompetensi dasar,
adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
4. indikator pencapaian kompetensi,
adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. tujuan pembelajaran,
menggambarkan proses dan ha¬sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. materi ajar,
memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
7. alokasi waktu,
ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. metode pembelajaran,
digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi¬lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9. kegiatan pembelajaran :

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan

a. pendahuluan/pembuka,
b. kegiatan inti terdiri atas, eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
c. kegiatan penutup.

10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom¬petensi.
C. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN RPP
Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.
Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut.
1. Mencantumkan Identitas
Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas¬, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
b. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan)
c. Indikator merupakan:
 ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar
 penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
 dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
 rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
 digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
d. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 35/40/45 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh :
Kegiatan pembelajaran: ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Maka tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat:
1. mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.
2. menyebutkan bagian-bagian jantung.
3. merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya.
4. mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.
Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.
3. Menetukan Materi Pembelajaran
Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.
Contoh:
Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.
Materi pembelajaran:
Ciri-Ciri Kehidupan:
Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.
4. Menentukan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.
Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
b. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, kooperativ learning, e-learning dan sebagainya.

5. Menetapkan Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Kegiatan pendahuluan. (10% dari Total Alokasi Waktu )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a. menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.

Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi). (75% dari Total Alokasi Waktu)

EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a. melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain;
c. memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya;
d. melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
e. memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.

ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
a. membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
b. memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c. memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut;
d. memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
e. memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
f. memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok;
g. memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.
h. memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
i. memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa;
b. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber;
c. memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;
d. memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
e. berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
f. membantu menyelesaikan masalah;
g. memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
h. memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan
i. memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa;
e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
f. Jawaban dibuktikan dengan melakukan observasi secara acak, hasil supervisi kepala sekolah/madrasah, dan kesesuaian RPP dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

Catatan :
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.
Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.
Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

7. Menentukan Penilaian
Penilaian dijabarkan atas
a. teknik penilaian,
b. bentuk instrumen, dan
c. instrumen yang dipakai yang beris rubrik penilaian

D. Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A. Identitas
Nama Sekolah : ……………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………..
Kelas, Semester : ……………………………..
Standar Kompetensi : ……………………………..
Kompetensi Dasar : ……………………………..
Indikator : ……………………………..
Alokasi Waktu : ….. x … menit (… pertemuan)

B. Tujuan Pembelajaran
C. Materi Pembelajaran
D. Metode Pembelajaran
E. Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah :
Pertemuan 1
 Kegiatan Awal
 Kegiatan Inti
 Kegiatan Penutup
Pertemuan 2
 Kegiatan Awal
 Kegiatan Inti
 Kegiatan Penutup
Pertemuan 3. dst
F. Sumber Belajar ( Buku, Bahan ajar dan Alat )
G. Penilaian ( berisi teknik penilaian , Bentuk instrumen dan Rubriks penilaian )

*) Makalah disampkan dalam Workshop Pentusunan KTSP di Lingkungan Kanwil Depag Prop Jateng





5 Fakta-Fakta Penyelewangan Dana BOS, Ironi “Sekolah Gratis”

4 07 2009

frm: “Al Faqir Ilmi”

5 Fakta-Fakta Penyelewangan Dana BOS, Ironi “Sekolah Gratis”
http://nusantaranew s.wordpress. com/2009/ 07/02/5-fakta- fakta-penyelewan gan-dana- bos-ironi- sekolah-gratis/

Seperti yang saya singgungkan dalam dua artikel sebelumnya mengenai iklan “sekolah gratis, pasti bisa” dan fakta bahwa butuh biaya Rp 575.000 per siswa SMP untuk masuk ke jenjang pendidikan menengah pertama. Dan angka-angka ini bervariasi tergantung daerah dan kebijakan sekolah.

Berdasarkan UU 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, telah mengatur bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan masyarakat sebesar minimal 20% dari belanja negara/daerah. Namun, perjuangan 3 tahun para guru dalam wadah PGRI menuntut pemerintah SBY-JK untuk mematuhi UU 20/2003 agar APBN memberi porsi 20% bagi pendidikan tidak dipatuhi pemerintah. Hingga pada Mei 2008, para guru berhasil mengugat APBN pemerintah SBY-JK periode 2009 melalui keputusan MK agar pemerintah SBY-JK mematuhi UU 20/2003 sekaligus menandakan kemenangan para guru (maaf, bukan inisiasi partai/politkus yang gemar mempolitisasi APBN 20% adalah hasil usahanya).

Sebelum Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan para guru pada Mei 2008, akhirnya pemerintah SBY-JK “terpaksa” mematuhi 20% anggaran pendidikan dari APBN. Angka ini meningkat bak disampar petir, karena kita tahu bahwa sektor pendidikan pada tahun 2007 hanya menerima sebesar 11.8% dari APBN (Rp 50.02 triliun). Dan pada tahun 2008 hanya 12% dari APBN (Rp 61.4 triliun). Dan pada tahun 2009, pemerintah baru menganggarkan pendidikan 20% APBN setelah digugat oleh para guru melalui PGRI. Sekali lagi saya tekankan, agar rakyat tidak dibodohi oleh iklan tidak bertanggungjawab karena secara tidak langsung pembuat iklan menghina perjuangan para guru melalui PGRI yang setia selama 3 tahun menggugat APBN yang tidak menganggarkan 20% pendidikan. Inilah politik busuk!

Berikut ini saya sampaikan Buku Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Pendidikan Dasar Lainnya (DPL) TA 2007 dan 2008. Dalam mengaudit hasil laporan dana BOS dan dana pendidikan lainnya, BPK RI mengambil uji sampling pada 4.127 sekolah di 62 kabupaten/kota, serta hasil pengolahan kuesioner yang telah diisi kepala sekolah. Catatan penting : Data penyalahgunaan anggaran ini hanya disampling 4127 sekolah SD/SMP dari sekitar 200.000 SD/SMP. Atau angka tertera hanya mencatat 2% dari total penyalahan anggaran dana BOS.

Dari hasil audit dan pengolahan data di lapangan, maka diperoleh statisik penyelewangan dana BOS dan dan pendidikan dasar lainnya sebagai berikut :

1. Sebanyak 62.85% sekolah tidak mencantumkan penerimaan BOS dan DPL (indikasi korupsi)

• Sebanyak 62,84% sekolah yang disampling tidak mencantumkan seluruh penerimaan dana BOS dan DPL dalam RAPBS dengan nilai Rp 479,96 miliar [TA 2007] dan Rp 144, 23 miliar [TA 2008 semester I]. Padahal salah satu media perencanaan yang dipakai sekolah dalam pengelolaan keuangannya adalah Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
• Penyalahan ini disebabkan oleh : 1) petunjuk teknis BOS dalam penyusunan RAPBS tidak mengatur
secara jelas cara penyusunan dan mekanisme pengesahan dari RAPBS menjadi APBS dan 2) Kepala sekolah tidak transparan dalam mengelola dana sekolah.

2. Sebanyak 4.12% sekolah tidak mengratiskan biaya operasional sekolah pada siswa didiknya

• Dari 4.127 sekolah di 62 kabupaten/kota, diperoleh 47 SD (27 SD Negeri dan 20 SD Swasta) dan 123 SMP (95 SMP Negeri dan 28 SMP Swasta) di 15 kabupaten/kota belum membebaskan biaya/iuran bagi siswa tidak mampu di sekolah dan tetap memungut iuran/biaya pendidikan seperti iuran ekstra kurikuler, sumbangan pengembangan sekolah, dan iuran komputer kepada siswa.

3. Dana BOS sebesar Rp28.14 miliar digunakan tidak sesuai peruntukannya (indikasi korupsi)..

Sesuai dengan peraturan dan perundangan, dana BOS diperuntukkan untuk:

1. pembiayaan seluruh kegiatan Penerimaan Siswa Baru (PSB);
2. pembelian buku tekspelajaran dan buku penunjang untuk koleksi perpustakaan;
3. pembelian bahan-bahan habis pakai, misalnya buku tulis, kapur tulis, pensil, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula, kopi dan teh untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah;
4. pembiayaan kegiatan kesiswaan, program remedial, program pengayaan siswa, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya;
5. pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa;
6. pengembangan profesi guru antara lain pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS;
7. pembiayaan perawatan sekolah seperti pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan meubelair dan perawatan lainnya;
8. pembiayaan langganan daya dan jasa;
9. pembayaran honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah;
10. pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin;
11. pembiayaan pengelolaan BOS dan bila seluruh komponen diatas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan jika masih terdapat sisa dana maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran sekolah.

Penggunaan dana BOS yang dilarang:

1. untuk disimpan dalam jangka waktu lama dengan maksud dibungakan; dipinjamkan kepada pihak lain; membiayai kegiatan yang bukan merupakan prioritas sekolah;
2. membayar bonus,transportasi, atau pakaian yang tidak berkaitan dengan kepentingan murid;
3. melakukan rehabilitasi sedang dan berat;
4. membangun gedung/ruanganbaru;
5. membeli bahan atau peralatan yang tidak mendukung prosespembelajaran;
6. menanam saham; dan
7. membiayai kegiatan yang telah dibiayai sumber dana pemerintah pusat atau daerah.

Fakta dilapangan:

Dari hasil sampling 4127 sekolah terdapat 2054 sekolah (sebesar 49,79%) penerima dana BOS menyalahi penggunaan dana BOS sebesar Rp 28.14 miliar dengan sebagai berikut:

1. Biaya transportasi kegiatan rekreasi kepala sekolah dan guru.
2. Uang lelah kepala sekolah.
3. Biaya pertemuan hari ulang tahun yayasan (biasa terjadi di sekolah swasta yang dikelola yayasan).
4. Dana BOS digunakan untuk membeli laptop, PC desktop, flash disk, dan peripheral komputer lainnya yang tidak terkait langsung dengan murid.
5. Membeli peralatan yang tidak berkaitan langsung dengan murid seperti dispenser, TV, antena parabola, kursi tamu di ruang kepala sekolah, lemari, dan lain-lain.
6. Pembelian voucher hand phone, pemberian uang duka dan karangan bunga acara pisah sambut kepala dinas, pembelian note book dan PC desktop.
7. Melakukan rehab gedung sekolah yang termasuk dalam rehab sedang atau berat.
8. Biaya honor dan transportasi guru untuk kegiatan-kegiatan pengembangan profesi yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat atau pemerintah daerah lainnya seperti LPMP, SKB, dan Pemda.
9. Dana BOS dipinjamkan sementara untuk membiayai honor guru bantu atau honor guru tidak tetap yang belum dibayarkan oleh pemerintah daerah.
10. Biaya partisipasi HUT Kota/Kabupaten (mengikuti parade HUT kota atau kabupaten).
11. Biaya konsumsi guru dari pagi s.d. siang hari (selain biaya teh, gula, dan kopi seperti diperbolehkan dalam juklak)

Dengan mengunakan uji sampling (uji petik) 4127 dari sekitar 200 ribu sekolah, maka dana BOS yang tidak digunakan sesuai peruntukan dalam operasional sekolah mencapai Rp 1.4 triliun.
Dari laporan BPK RI tersebut, mestinya Departemen Pendidikan Nasional (Menteri Bambang Subadyo) berbenah diri mengurusi penyalahan penggunaan anggaran sekolah dan mensosialisasi melalui kepada dinas Kabupaten/kota untuk mengimplementasikan dengan tepat anggaran BOS dari uang pajak rakyat+sumber daya alam+ utang negara. Bukan pula dengan melancarkan iklan “sekolah gratis” yang menghabiskan ratusan miliar rupiah.

4. Buku dana BOS buku sebesar Rp562.4 juta tidak sesuai dengan buku panduan BOS (indikasi korupsi) dan senilai Rp656.7 juta belum/tidak dapat dimanfaatkan.

Dari sampling 4127 SD/SMP di 62 kabupaten/kota, terdapa 134 sekolah di 14 kabupaten/kota senilai Rp 562.4 juta yang menggunakan dana BOS buku untuk membeli buku-buku pelajaran yang tidak sesuai dengan juknis BOS buku. Secara statistik, angka penyalahaan BOS buku ini setara dengan Rp 25 miliar untuk sekitar seluruh SD/SMP di Indonesia.

5. Terjadinya indikasi korupsi sebesar Rp 2.41 miliar dana safeguarding

Dalam pemeriksaan BPK RI atas pengelolaan dana safeguarding menunjukkan bahwa pengelolaan dana safeguarding pada Tim Manajemen BOS Provinsi Maluku Utara, Jawa Timur dan Maluku terjadi penyimpangan senilai Rp 2.14 miliar.
Dalam dokumen pemeriksaan BPK RI, secara jelas menyatakan adanya indikasi korupsi dengan rincian sebagai berikut :
1. Pemasangan iklan safeguarding Maluku Utara diragukan kewajarannya dan diindikasikan merugikan keuangan negara sebesar Rp250,37 juta dan ditambah perjalanan dinas tidak dapat diyakini kewajarannya sebesar Rp1,32 miliar.
2. Kerugian negara atas kelebihan pembayaran atas pekerjaan penyuluhan dan penyebaran informasi melalui media cetak di Provinsi Jawa Timur sebesar Rp 749,63 juta.
3. Kemahalan harga atas penayangan iklan di Provinsi Maluku sebesar Rp 88,57 juta.

*************************************************************************

Sebenarnya ada 12 temuan penyalahan penggunaan anggaran BOS dan DPL dari hasil pemeriksaan BPK RI. Namun dalam kesempatan ini, saya hanya mengambil 5 dari 12 laporan temuan penyalahgunaan anggaran BOS dan DPL yang merugikan negara hingga puluhan bahkan triliun rupiah.

Dalam laporan setebal 93 halaman tersebut juga secara jelas merilis kabupaten/kota yang bermasalah dalam menggurus dana BOS dan DPL. Penyaluran dana BOS ke sekolah-sekolah pada 32 provinsi mengalami keterlambatan 1 sd 66 hari untuk TA 2007 dan 1 sd 60 hari untuk TA 2008, sehingga bank/diknas setempat mendapat keuntungan dari dana ‘tabungan’/bunga setoran yang ditanamkan di bank-bank tersebut..
Begitu juga, penitipan uang pajak senilai Rp1.212,00juta atas DAK Bidang Pendidikan yang diterima sekolah di Kota Jayapura dipergunakan untuk kepentingan lain dan sisa dana penitipan uang pajak sebesar Rp423,18juta belum disetor ke kas negara

Salah satu penyebabnya adalah lemahnya pengorganisasian dan implementasi dari dinas pendidikan kabupaten/kota. Birokrasi masih menjadi biang kebocoran dana negara. Mestinya Depdiknas melalui Mendiknas Bambang S sudah melihat hal ini jauh ke depan dan tidak dengan begitu ambisius melancarkan iklan “sekolah gratis”. Jika Anda memang piawai dalam pendidikan, jangan khawatir Anda akan diangkat sebagai Mendiknas lagi oleh Capres yang menang, tanpa harus memenangkan salah satu capres, karena jelas sekali dana iklan sekolah gratis “bisa” menggunakan dana rakyat.

Akhir kata, apa makna “sekolah gratis”, jika reformasi birokrasi di Depdiknas masih jauh dari harapan serta terjadi penyalahgunaan anggaran karena ketidakprofesionala n pejabat Depdiknas baik di pusat maupun daerah serta mental korup yang masuk dalam sendi-sendi para pendidik?

Salam Perubahan, 2 Juli 2009

( mayb , we need to rmake a self reflektion to say ; how education in our country can more better ? )





Seminar Nasional dan Deklarasi Pembentukan IALI Di Uns

4 07 2009

SEMINAR NASIONAL LINGKUNGAN HIDUP
Tema: Paradigma Baru Pemberdayaan Ekonomi dan Budaya Nasional Berbasis Lingkungan
DEKLARASI PEMBENTUKAN IKATAN AHLI LINGKUNGAN INDONESIA (IALI)

info lebih lanjut klik disini

Poster SEMNAS+IALI





Suatu ketika ..

10 06 2009

adnan
membayangkan mu sekarang ini… adalah suatu tahap bagaimana suatu harapan yang telah di toreh pada setiap doa untuk menjadimu anak yang sholeh . Meskipun Kadang ada worry juga melihat mu saat ini, dengan keadaan lingkungan, keleluasaan informasi , keakuanmu yang tinggi dan banyaknya para wanita yang ada di sekelilingmu yang selalu mengejarmu , bisakah semua itu di lalui ?
Menjadikan mu GREAT and the best adalah harapan all mother in the word honey .. and so more wishing have described to realize it , can u to accept it ?Do something with perfectly .. this message dont u ignore …
saat ini pula sebuah langkah .. u have followed and u have shown me if u can the best son… thanks for your worked hard. u be the best if u sure anything cant repeat to flash back . sucses for you and happy brtihday. We more love you





Cooperative learning

1 06 2009

Apakah Pembelajaran Kooperatif Itu ?

Cooperative Learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu samalainnya sebagai satu kelompok satu tim. Istilah cooperative learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama pembelajaran kooperatif. Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatanbelajar-mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa,yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidakpeduli orang lain. Pembelajaran kooperatif mempakan salah satu bentuk pengajaran atau pembelajaran yang didasarkan pada paham konstrutivisme. Pada pembelajaran ini diyakani bahwa keberhasilan peserta didik akan tercapai bila setiap anggota kelompoknya berhasil. Kelompok dibuat kecil, biasanya terdiri dari tiga sampai lima orang agar interaksi antar anggota kelompok menjadi maksihal dan efektif. Selain itu diharapkan dapat menyelesaikan tugas kolektif tanpa supervisi langsung dan guru
Definisi tentang pembelajaran kooperativ sebenarnya juga sangat beragam. Beberapa pendapat mengenai pembelajaran kontrukstivisme dikemukan oleh para ahli pendidikan diantaranya menurut Elliot (2000: 59) pembelajaran. kooperatif didefinisikan sebagai satu set dari metode instruksional, yang mana murid didorong untuk bekerja bersama-lama dalam menerjakan tugas akademik. Slavin (dalam Isjoni, 2007:15) mengemukakan pengertianCooperative Learning adalah In Cooperative Learning methods, students work together infour member teams to master material initially presented bythe teacher. Carolyn Kessler (1992: 8) juga mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah aktivitas belajar kelompok yang diatur sehingga kebergantungan pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antar anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajaran lainnya.

Apakah Karakteristik Pembelajaran Kooperativ ?

Menurut Slavin,1995 (dalam Isjoni, 2007:21) mengemukakan konsep sentral yang menjadikarakteristik cooperative learning yaitu:
1. penghargaan kelompok,
cooperative learning menggunakan tujuan-tujuan kelompok untukmemperoleh penghargaan kelompok. Keberhasilan kelompok didasarkanpada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakanhubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dansaling peduli.
2. pertanggungjawaban individu
pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota
kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siapuntuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuanteman sekelompoknya.
3. kesempatan yang sama untuk berhasil.
cooperative learning menggunakan metode skoring yang mencakup nilai
perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dariyang terdahulu. Dengan menggunakan metode ini setiap siswa baik yangberprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

Apakah perbedaan Belajar Kelompok dengan Pembelajaran Kooperativ ?

Roger dan Daviod Johnson dalam Lie (2004: 31-35) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sebagai pembelajaran kooperatif, Keberhasilan Pembelajaran Kooperativ bergantung pada 5 hal diantaranya :

1) Saling ketergantungan yang positif

Keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
2) Tanggung jawab perseorangan.

Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.

3) Tatap muka.

setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dan satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerjasama ini jauh lebih besar dari pada jumlah hasil masing-masing anggota.

4) Komunikasi antar anggota.

Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5) Evaluasi proses kelompok.

Pengajar perlu menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajar terlibat kegiatan pembelajaran.

Faktor apakah yang perlu diperhatikan Pada pembelajaran Kooperativ ?

Model pembelajaran cooperative learning sebenaranya juga akan berjalan baik jika diterapkan dengan kelas yang kemampuan siswanya bervariasi dan lebih membutuhkan pendekatan ini. Kehadiran model pembelajaran cooperative learning tidak bermaksud menggantikanpendekatan kompetitif (persaingan). Nuansa kompetitif di kelas akan sangatbaik jika diterapkan secara sehat dan seimbang.
Namun, pendekatan kooperatif ini adalah sebagai alternatif pilihan dalam mengisi kelemahan kompetisi. Hal ini karena dalam pendekatan kompetitif hanya sebagian siswa saja yang bertambah pintar, sementara yang lainnya semakin tenggelam dalam ketidaktahuannya. Selain itu, tidak sedikit siswa yang akan malu bilaketidaktahuannya di-expose, dan terkadang motivasi persaingan akan menjadikurang sehat bila para murid saling menginginkan agar siswa lainnya tidakmampu dalam menjawab pertanyaan. Oleh sebab itu sikap mental inilah yangperlu untuk mengalami improvement (perbaikan).

Apakah Keunggulan pembelajaran Kooperativ Learning ?

Metode pembelajaran kooperatif mempunyai manfaat yang besar dalam pembelajaran. Metode pembelajaran kooperatif dapat digunakan sebagai strategi pengajaran alternatif, dimana pelajar dapat memperoleh manfaat yang terpadu antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Selain itu model pembelajaran ini telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran dan berbagai usia. Selain itu banyak buktibukti nyata tentang keberhasilan pendekatan ini dan masyarakat ataupun parastakeholders pendidikan semakin menyadari pentingnya para siswa berlatih berpikir, memecahkan masalah, serta menggabungkan kemampuan dan keahlian. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa cooperative learningtersebut mampu memasuki mainstream (kelaziman) praktek pendidikan. Disinilah peran guru untuk merancang pengajaran dan pembelajaran agar prestasi belajar siswa dapat dimanifestasikan dalam pengajaran dengan cara pemilihan pendekatan pembelajarn yang sesuai .

Apa saja Model Pembelajaran Kooperativ?

Beberapa model pembelajaran yang dikembangkan dari coopertiv learning menurut muhamad surya (2004:1) diantaranya Jigsaw , STAD (student Team Achiement Division), Group Investigation (GI), Team Games Tornamnet (TGT), Rotating Trio Exchange Arends (2004: 361-166), .menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis model yang digunakan dalam metode pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah: Student team achievement division (STAR), Jigsaw, Group Investigasi (GI) dan pendekatan struktural . Dalam cooperative learning terdapat beberapa variasi model yangdapat diterapkan yaitu:

1. Student Team Achievement Division (STAD)

Tipe ini dikembangkan oleh Slavin dan merupakans alah satu tipekooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantarasiswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materipelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Metode ini dipandangsebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatanpembelajaran kooperatif.
Tahapan yang ada dalam proses pembelajaran STAD
adalah: 1). Tahap penyajian materi, 2). Tahap kegiatan kelompok, 3) tahap tesindividual, 4) tahap penghitungan skor perkembangan individu, dan 5) tahappemberian penghargaan kelompok.

Langkah-langkah dalam pembelajaranSTAD antara lain:

a. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri 4 atau 5 anggotakelompok dengan komposisi yang setara baik jenis kelamin, tingkatkemampuan, maupun latar belakang sosial budayanya.
b. Guru memberikan acuan dan ilustrasi berkenan dengan bahan yangdipelajari siswa.
c. Masing-masing kelompok bekerjasama, mempelajari bahan yang dimiliki,berdiskusi dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah memilikipemahaman yang memadai.
d. Setelah selesai berdiskusi, setiap anggota kelompok mengambil kuis atauperangkat tes atas inisiatif sendiri.
e. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahanajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggiatau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

2. Jigsaw

Metode Jigsaw terdiri dari dua metode, yaitu:
Metode I, langkah-langkahnya sebagi berikut.
a. Siswa dibagi beberapa kelompok (masing-masing kelompok beranggotakan 5-6 mahasiswa, mahasiswa bervariasi/heterogen).
b. Materi dipilah-pilah menjadi beberapa bagian, setiap kelompok mengkaji bagian yang unik.
c. Anggota dari kelompok yang berbeda bertemu dengan anggota darikelompok lain yang memiliki bagian atau bahan kajian yang sama.
d. Setelah itu, mereka kembali kepda kelompoknya dan mengambil posisi untuk menyampaikan apa yang telah dikaji dari kelompok sebelumnya pada anggota kelompknya.

Metode II, langlah-langkahnya sebagai berikut.
a. Siswa bekerja dalam suatu kelompok yang beranggotakan 4-5siswa.
b. Semua siswa dalam kelompok tersebut membaca suatu narasi,misalnya cerita pendek, atau biografi tokoh iyang sukses.
c. Setiap siswa dalam kelompok tersebut memilih topik tertentu dari narasi tersebut dan menjadikannya sebagai “siswa ahli”.
d. selanjutnya mereka bertemu dalam “kelompok siswa ahli”
e. Setelah selesai dalam kelompok siswa ahli masing-masing kembali kepada kelompoknya seperti pada jigsaw metode I.

3. Group Investigation (GI)

Langkah-langkah dalam model ini antara lain:
a. Siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang(kelompok disusn berdasarkan perkawanan atau berdasrkan padaketerkaitan akan sebuah materi tanpa melanggar ciri-ciri ooperativelearning).
b. Siswa memilih sub topik yang ingin mereka pelajari dan topik yang biasanya telah ditentukan guru.
c. Selanjutnya siswa dan guru merencanakan tujuan, langkah-langkahbelajar berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih.
d. Kemudian siswa mulai belajar dengan berbagai sumber belajar baik didalam ataupun di luar sekolah.
e. Setelah proses pelaksanaan belajar selesai, mereka menganalisis,menyimpulkan, dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas.

4. Team Games Tornamnet (TGT)

Langkah-langkah metode TGT yaitu sebagai berikut:
a. Siswa dibagi beberapa kelompok, masing-masing anggotatim/kelompok memiliki kemampuan tinggi, menengah, rendah; lakilaki,perempuan; berasal dari latar belakang berbeda.
b. Kompetisi dilaksanakan pada suatu meja turnemen yang terdiri daritiga siswa, masing-masing berfungsi sebagai pembaca, penantang I,atau penantang II, secara berputar dan bergilir.
c. Pembaca melakukan:
 Mengambil kartu bernomor dan mencari pertanyaan terkait pada lembar permainan.
 Membaca pertanyaan tersebut dengan cukup keras
 Penantang I menjawab pertanyaan; penantang I akan memberikan jawaban atau melemparkannya ke penantang II yang menerimapertanyaan tersebut harus menjawab, berikutnya merekamencocokkan dengan lembar jawaban benar akan mendapat skor,namun bilamana jawaban salah tidak dikenakan pinalti.
 Siswa yang berkemampuan tinggi dari kelompok I berkompetisi dengan siswa yang juga berkemampuan tinggi dari kelompok II dan III,sedangkan pada meja turnamen yang lain dipergunakan olehmahasiswa yang memiliki kemampuan sedang, baik dari kelompok I,II maupun III. Begitu pula bagi siswa yang berkemampuan kurang.
 Setelah turnamen selesai, perolehan skor-skor tim dipampang besertaketerangan kelompok pemeroleh skor tertinggi, dan pemenang darimeja turnamen.

5. Rotating Trio Exchange

Prosedur pelaksanaan Rotating Trio Exchange antara lain:
a. Pembentukan kelompok oleh guru yang terdiri dari 3 orang siswa.Masing-masing diberi simbol 0,1, dan 2.
b. Penyampaian prosedur yang akan dilakukan yaitu Rotating Trio Exchange, dengan cara:
 Setelah terbentuk kelompok maka guru memberikan bahan diskusi untuk dipecahkan trio tersebut.
 Selanjutnya berdasarkan waktu maka siswa yang mempunyai simbol 1 berpindah searah jarum jam dan simbol 2 sebaliknya,berlawanan jarum jam. Sedangkan nomor 0 tetap di tempat.
 Guru memberikan pertanyaan baru untuk didiskusikan oleh triobaru tersebut
 Rotasikan kembali siswa seusai setiap pertanyaan yang disiapkan.
c. Penyajian hasil diskusi oleh kelompok
d. Memberikan tugas kepada siswa.

.
6. Group Resume

Model ini akan menjadikan interaksi antar siswa lebih baik.
Langkah-langkahnya antara lain:
a. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 3-6 orang siswa.
b. Guru memberikan penekanan bahwa mereka adalah kelompok yang bagus,baik bakat ataupun kemampuannya di kelas.
c. Kelompok-kelompok tersebut membuat kesimpulan yang di dalamnya terdapat data-data latar belakang pendidikan, pengetahuan akan isi kelas,pengalaman kerja, kedudukan yang dipegang sekarang, keterampilan,hobby, bakat dan lain-lain.
d. Setiap kelompok mempresentasikan

Beberapa model pembelajaran diatas dapat diterapkan sebagai salah satu model dari metode cooperativ learning pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mempertimbangkan beberapa indikator , diantaranya ;!) indikator komptensi yang akan dicapai 2) karakteristik siswa 3)alokasi waktu yang dipersiapkan dalam RPP

Diharapkan dengan seringnya guru mendesign bebrapa model pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung maka akan menumbuhkan iklim kelas kondusif sehingga target komppetensi minimal bisa dicapai , selamat mencoba;

( Makalah disampaikan pada pertemuan Sosialisasi KTSP tahap 2untuk fasilitator Guru IPA , Dinas Prop Jateng, 8-12 Juli 2006 )





KEANEKARAGAMAN HAYATI SEBAGAI MATERI BARU PENGAJARAN BIOLOGI SMA KELAS SATU

1 06 2009

Pendahuluan

Penyempurnaan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 1999 pada mata pelajaran Biologi SMU ditemukan beberapa penambahan konsep baru . Selain terjadi beberapa pergesarn materi di kurikulum 1999 hirakis dalam pembelajaran biologi terjadi perubahan juga . Fokus pembelajaran biologi pada kurikulum ini adalah mempelajari konsep biologi dari konsep mahluk hidup yang di lihat dari mahluk multisel ke uni sel . Jika pada kurikulum 1994 mempelajari biologi dari konsep sel kemudian baru dikembangkan pada konsep yang lebih luas pada mahluk hidup multisel pada kurikulum 1999 terjadi kebalikannya,Adanya cara pandang ini memyebabkan beberapa pokok bahasan mengalami penambahan konsep yang sebelumnya pada kurikulum 1994 tidak ditemukan .
Penambahan konsep dijumpaipada biologi kelas I (satu ) yaitu munculnya pokok bahasan Keanekaragaman hayati sebagai pokok bahasan pokok bahasan pertama. yang diberikan pada semester 1 , Apa latar belakang penambahan konsep Keanekaragaman Hayati serta apa yang dipelajari dalam konsep tersebut ? serta bagaimanakah konsep tersebut diberikan pada pembelajaran biologidi kelas ? Makalah ini akan mengupas permasalahan tersebut.

Apakah Keanekaragaman Hayati (Bio Diversity) itu ?

Keanekaragamnan hayati terdiri dari kata Keanekaragaman dan hayati . Keanekaragaman dalam bahasa Inggris berarti Diversity yang memiliki arti beraneka macam , sedangkan hayati dapatdi artikan sebagai Mahluk hdup (bio ). Jadi secara luas Keanekaragaman hayati merupakan beraneka macam mahluk hidup di bumi ini . Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak; dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem. Banyaknya keanekaragaman mahluk hidup ini meyebabkan diperlukannya pengenalan lebih dini kepada siswa untuk menyadarinya melalui pembelajaran di sekolah.

Mengapa konsep keanekaragaman hayati perlu dikenalkan pada siswa ?

Pada tahun 1992, UNEP melaksanakan UNCED (United Nations Conference on Environment and Development) di Rio de Janeiro, Brazil, dan menghasilkan, salah satunya adalah Convention on Biological Diversity (CBD). Tujuan utama konvensi ini ialah melestanikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan sumber daya genetik secara berkelanjutan dan memastikan pembagian keuntungan secara adil dan merata dan pemanfaatan tersebut. Sumber daya genetik adalah benda atau barang yang merupakan unit atau komponen keanekaragaman hayati. Benda atau barang inilah yang dimanfaatkan secara langsung. Nyatalah bahwa makin besar keanekaragaman hayati, makin banyak pula sumber daya genetik, dan makin besar pula peluang pemanfaatannya, karena makin banyak pilihan barang yang dapat dimanfaatkan . Latar belakang permasalahan inilah yang menyebabkan pentingnya keanekaragaman hayati di pelajari di sekolah.
Tujuan pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dalam GBPP Biologi SMU Kelas I adalah agar siswa memahami cara-cara mempelajari keanekaragaman hayati dengan pendekatan klasifikasi dan mengenal manfaat pengetahuan keanekaragaman tersebut.Keanekaragaman hayati menunjukkan totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem yang dijumpai di suatu daerah.
Untuk memudahkan siswa mempelajari Konsep Keanekargaman hayati , ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh para guru , diantaranya ;
a. Menyusun Materi yang harus di berikan kepada siswa
a. Menetukan tujuan pembelajaran khusus dan mendesign metode
b. Melengkapi sarana sumber belajar siswa, dimana pembelajaran konsep keanekaragaman hayati menuntut siswa dan guru tidak cukup hanya dengan membaca buku saja
c. Dalam proses belajar-mengajar terdapatnya berbagai macam variasi, guru dapat menugaskan siswa mencari informasi dari pustaka, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Guru menggunakan metode diskusi yang dilengkapi dengan gambar atau media lainnya

Apa saja Materi yang dipelajari pada Konsep Keanekaragaman Hayati ?

Konsep keanekaragaman hayati di SMA terbagi dalam beberapa uraian materi yang dapat disusun oleh guru . Adapun pokok uraian materi dapat di susun sebagai berikut
1. Arti keanekaragaman hayati
2. Macam keanekaragaman hayati dan contohnya
3. Manfaat mempelajari Keanekaragaman Hayati
4. Usaha manusia untuk melestarikan keanekaragan hayati
5. Metode / cara mempelajari Keanekaragaman hayati

1. Arti Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati berarti ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah serta sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan makhluk hidup, baik tingkat genetik (dalam satu spesies), tingkat jenis(spesies), maupun tingkat ekosistem.

2. Tingkat/ Macam Keanekaragaman Hayati

Secara garis besar, keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu :
a. Keanekaragaman gen
Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis.
misalnya :
- variasi jenis kelapa : kelapa gading, kelapa hijau
- variasi jenis anjing : anjing bulldog, anjing herder, anjing kampung
Yang membuat variasi tadi adalah : Rumus : F = G + L
F = fenotip
G = genoti
L = lingkungan

Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.

b. Keanekaragaman jenis (spesies)
Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen. Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba.misalnya variasi dalam satu famili antara kucing dan harimau. Mereka termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada perbedaan fisik, tingkah laku dan habitat.

c. Keanekaragaman ekosistem
Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dari ekosistem di biosfir. misalnya : ekosistem lumut, ekosistem hutan tropis, ekosistem gurun, masing-masing ekosistem memiliki organisme yang khas untuk ekosistem tersebut. misalnya lagi, ekosistem gurun di dalamnya ada unta, kaktus, dan ekosistem hutan tropis di dalamnya ada dalamnya ada harimau.Ketiga macam keanekaragaman tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Ketiga tingkat keanekaragaman hayati dipandang sebagai suatu keseluruhan atau totalitas yaitu sebagai Keanekaragaman hayati. Maksud dari konsep ini adalah :
1) Dengan mengetahui adanya keanekaragamaan gen merupakan modal dasar untuk melakukan rekayasa genetika dan hibridisasi (kawin silang) untuk mendapatkan bibit unggul yang diharapkan.
2) Dengan mengetahui adanya kenaekaragaman jenis dapat menuntun kita untuk mencari alternatif dari bahan makanan, bahan sandang, dan papan, juga dapat menuntun kita memilih hewan-hewan unggul yang dapat dibudidayakan.
3) Dengan mengetahui adanya keanekaragaman ekosistem kita dapat mengembangkan sumber daya hayati yang cocok dengan ekosistem tertentu sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian dan peternakan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3. Contoh Keanekaragam Hayati Dan Manfaatnya

a. Keanekaragaman tingkat Gen dan Species
Pilihan sumber daya genetik tergantung pada tersedianya keanekaragaman hayati. Bila seandainya hanya tersedia satu atau jumlah terbatas varietas padi, bila satu atau jumlah terbatas ini hilang, punah misalnya, tidak ada pilihan lagi. Akibatnya bagi menusia dapat dibayangkan. Padi merupakan komponen pangan utama yang menyusun 26% penyediaan pangan manusia.
Selain pada tingkat varietas (di dalam spesies), pentingnya keanekaragaman juga dirasakan pada tingkat spesies. Misalnya, Indonesia merupakan pusat keanekaragaman marga dunia. Dengan belasan spesies Durio, pilihan pemanfaatannya tidak terbatas pada durian biasa (zibethinus), tetapi kini sudah mulal dimanfaatkan spesies lain, yaitu lae (kutajensis). Masih banyak pilihan dan marga Durio ini yang mempunyai peluang pemanfaatan. Begitu juga halnya yang dapat terjadi pada hewan, misalnya ayam, kerbau, dan ternak lain, serta ikan.
Keanekaragaman hayati pada tingkat di dalam spesies (varietas) memberikan peluang kepada manusia untuk mengotak-katiknya dengan hasil varietas baru yang mempunyai keunggulan lebih. Pemuliaan tanaman atau hewan merupakan upaya manusia yang tergantung berat pada tersedianya keanekaragaman unit-unit di dalam spesies. Dengan tersedianya berbagai varietas — padi misalnya — tersedia peluang untuk menyilang-silangkan varietas-varietas tententu untuk memperoleh varietas padi baru yang dikehendaki manusia. Tersedianya varietas-varietas padi terwujud dari proses penyilangan dalam pemuliaan. Hal yang sama terjadi pula pada spesies-spesies lain tanaman dan hewan.

Bila bahan untuk pemuliaan tanaman atau hewan tersedia, dan pemuliaan dapat dilakukan di dalam negeri sendiri, akan dapat dilakukan pengurangan ketergantungan pada impor bibit. Varietas baru, yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri dapat diciptakan sendiri. Kalau hal ini dapat dilakukan sendiri, maka jelas ketergantungan pada impor dapat dikurangi atau bahkan dihentikan.

b. Keanekaragaman hayati juga terjadi pada taraf ekosistem.

Dengan berbagai macam ekosistem, baik yang alami (hutan, gunung, lautan, dsb) maupun yang buatan manusia (sawah, pekarangan, kolam ikan, tambak, dsb) akan dapat dilakukan pemilihan pemanfaatannya, Peluang pemanfaatan ini makin besar bila keanekaragaman ekosistem makin besar pula. Tersedianya keanekaragaman spesies akan lebih besar bila terdapat lebih banyak ekosistem.
Untuk pertanian tanaman saja, misalnya, adanya banyak ekosistem pertanian akan menyediakan banyaki pilihan komponen keanekaragaman hayati. Sawah saja akan menyediakan padi, tetapi bila ditambah ladang dan pekarangan, akan dapat diperoleh lebih banyak pilihan. Dengan adanya kolam ikan, akan lebih banyak lagi sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan. Begitu pula keuntungan yang dapat diperoleh dari ekosistem-ekosistem lainnya. Makin beranekaragam ekosistem, makin banyak sumber daya genetik yang dapat disediakan.

4. Usaha untuk Menjaga Kelestarian Keanekaragaman hayati

Dengan mengetahui peranan dan manfaat keanekaragaman hayati untuk ekosistem maupun untuk manusia maka keanekaragaman hayati itu perlu dilestarikan, dilakukan melalui konservasi in-situ maupun konservasi eks-situ.Pada konservasi in-situ, keanekaragaman hayati dilestarikan diekosistemnya yang asli sehingga ekosistem tersebut dilindungi secara hukum (cagar alam, taman nasional, dan sebagainya).
Konservasi eks-situ dilakukan dengan cara menanam tumbuhan atau hewan di tempat bukan habibat asli tetapi memiliki ekosistem yang mirip. Ada tujuh bidang yang menjadi fokus pelaksanaan upaya ini:

a. Mengurangi laju kemerosotan komponen-komponen keanekaragaman hayati;

b. Mendorong pemanfaatan secara berkelanjutan;

c. Memberikan perhatian kepada ancaman terhadap keanekaragaman hayati, termasuk gangguan dari spesies asing yang menggeser spesies asli, perubahan iklim, pencemaran, dan perubahan peruntukan habitat;

d. Mempertahankan integritas ekosistem dan penyediaan barang dan jasa dari keanekaragaman hayati dalam ekosistem;

e. Melindungi pengetahuan, inovasi, dan praktek-praktek tradisional;

f. Menjamin pembagian keuntungan secara adil dan merata yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik;

g. Memobilisasi sumber-sumber dana dan teknis untuk pelaksanaan Konvensi mengenai Keanekaragaman Hayati.

5. Cara mempelajari Keanekaragaman hayati

Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, perilaku atau ciri-ciri lainnya dari suatu flora dan fauna, langkah pertama dilakukan identifikasi yaitu menentukan nama ilmiah dan kelompok sesuai dengan Kode Tatanama Internasonal.Identifikasi merupakan kegiatan utama klasifikasi atau taksonomi, dengan klasifikasi dan taksonomi keanekaragaman hayati makhluk hidup dapat dipelajari dan dipahami dengan lebih mudah dan utuh


Bagaimanakah Metode Pembelajaran Yang sesuai Untuk Konsep Keanekaragaman Hayati ?

Keanekaragaman hayati meliputi berbagai macam aspek seperti ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, dan tingkah laku makhluk hidup yang selanjutnya akan menyusun suatu ekosistem tertentu.Agar siswa mampu mempelajari konsep Keanekaragaman hayati dengan baik diperlukan metode pengajaran yang tepat . Tujuan Pembelajaran yang dirumuskan oleh guru lebih di fokuskan agar dalam pembelajaran menggunakan observasi lingkungan bukan hanya dengan metode ceramah . Kombinasi metode observasi , eksperimen dan diskusi akan melatih siswa untuk dapat memotret adamya keanekaragaman hayati secara utuh .
Melibatkan siswa dalam kegiatan obsevasi lingkungan harus di bimbing sejak awal, guru harus tekun melatih siswa untuk menemukan masalah dan memecahkan masalah dengan menerapkan metode ilmiah dalam setiap pembelajaran di kelas . Memulai pembelajaran Konsep keanekaragam hayati dengan meminta siswa mengambil 2 helai daun dari tumhuan yang berbeda , kemudian guru meminta siswa untuk melakukan analisis persamaan ciri ciri yang dijumpai melalui pengamatan .
Siswa akan lebih menikmati pembelajaran karena semua indera akan dipakai untuk memecahkan maslah yang diberikan guru. Jadi kesimpulannya jangan takut dengan metode yang lebih melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran akan menyebabkan waktu pembelajarn terbuang akibatnya materi tidak akan selesai.
Silahkan di coba

1)Disampaikan Pada Semiloka Biologi Kerjasama MGMP Biologi SMA dengan Fakultas Biologi UGM tangal 20 Maret 1998





TENTANG MAKNA CINTA

1 06 2009

Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari
Tanpa di cari oleh kekasihnya
Apabila kilat cinta telah menyambar hati yang ini
Ketauilah bahwa ada cinta dalam hati yang paling dalam
Apibila cinta Allah bertambah besar di hatimu
Pastilah Allah menaruh cinta atasmu

Tak ada bunyi tepuk tangan jika hanya dengan satu tangan
Tanpa tangan yang lain
Kebijaksanaan Ilahi adalah takdir dan ketetapan
Yang membuat kita cinta satu sama lain
Karena takdir itu ,
Setiap bagian dunia dipertemukan dengan jodohnya

Dalam pandangan orang bijak, langit adalah laki –laki
Dan bumi adalah wanita ; bumi memupuk apa yang telah diberikan oleh langit
Apabila bumi kekurangan panas ; maka langit mengirimkannya
Apabila ia kehilangan kesegaran dan embun
Langit memperbaharuinya
Langit berkelling , bagaikan seorang suami mencari nafkah
Kesana kemari demi istrinya
Dan istrinya sibuk dengan urusan rumah tangga; ia melahirkan
Dan menyusui apa yang dilahirkan

Angaplah bumi dan langit sebagai yang terkurnia dengan kecerdasan
Karena mereka mengerjakan pkerjaan mahluk yang memiliki kecerdasan
Andaikan pasangan ini tidak mengecap kenikmatan dari satu sama lain
Mengapa mereka melangkah bersama bagaikan sepasang kekasih ?

Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pohon pohon bisa mulai berkembang ?
Kalaui begitu apa yang akan di hasilkan oleh air dan kehangatan langit ?

Sebagai mana Allah memberikan keinginan kepada laki laki dan wanita
sampai akhir hingga akan terpelihara oleh kesatuan mereka
demikian juga ia menanamkan ke dalam setiap bagian keberadaan nafsu
terhadap bagian bagian lain …..
siang dan malam bermusuhan kelihatannya : namun keduanya memiliki
suatu tujuan
masing masing saling mencintai dan menyempurnakan karya mereka bersama ;*

*translated frm RA nichloson, Rumi , G allen

(I write to sure me if the real love is true )





BAGAIMANAKAH CARA MENGHITUNG BERAT BADAN ?

1 06 2009

dinaSering karena alasan performans atau alasan kesehatan kita cendrung lebih suka jika tubuh kita kurus dan ramping, orang akan melihat dengan postur tubuh seperti itu orang merasa dirinya lebih seksi . Manakah yang lebih di pilih tubuh kurus atau tubuh yang penuh dengan lemak ?
Tentunya tidak tepat untuk memilih ke dua opsi diatas , karena yang paling pas adalah tubuh dengan berat badan ideal . Terus bagaiman kita dapat mengetahui apakah berat bada kita ideal ?

Ada beberapa cara untuk menghitung berat badan sesorang , apakah termasuk ideal atau tidak beberapa di antaranya dengan menggunakan pengukuran berkut ini ;
1. Menggunakan Rumus BMI

Body Mass Index (BM I) adalah skala yang digunakan untuk menentukan kategori berat badan seseorang , penting bagi kita untuk mengetahui BMI masing masing . BMI digunakan sebagai tali pengukur untuk menentukan berat badan ideal kita..
Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Index Masa Tubuh(IMT) adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakanuntuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekuranganberat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan).
Istilah “normal”, “overweight” dan “obese” dapat berbeda-beda, masing-masing negara dan budaya mempunyai kriteria sendiri-sendiri, oleh karena itu, WHO menetapkan suatu pengukuran / klasifikasi obesitas yang tidak bergantung pada bias-bias kebudayaan.
Rumus atau cara menghitung BMI sangat mudah, yaitu dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan dibagi dengan tinggi badan (dalam m²).BMI lebih berhubungan dengan lemak tubuh dibandingkan dengan indikator lainnya untuk tinggi badan dan berat badan.
Sebagai contoh jika anda mempunyai tinggi 160 cm dan berat badan sebesar 60 kg , apakah sudah ideal ? Untuk mengetahuinya kita gunakan rumus BMI dengan cara membagi berat badan dalam kilogram dengan dibagi dengan tinggi badan (dalam m²) (jika tinggi anda 160 cm, maka harus dirubahjadi 1,6m ). Lalu hasil dari BMI tersebut dapat dicocokkanpada Tabel Klasifikasi Internasional kriteria Underweight,Overweight dan Obesitas pada Orang Dewasa yangdisepakati oleh organisasi kesehatan dunia, WHO sebagai berikut :
Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI

Kategori BMI (kg/m2) Resiko Comorbiditas
Underweight 25
Pre-obese 25.0 – 29.9 kg/m2 Meningkat
Obese I 30.0 – 34.9kg/m2 Sedang
Obese II 35.0 – 39.9 kg/m2 Berbahaya
Obese III > 40.0 kg/m2 Sangat Berbahaya

BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya. Seseorang dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30, dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20%.
Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:
• Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan
• Wanita hamil
• Orang yang sangat berotot, contohnya atlet

2. Rumus Menghitung Berat Badan Ideal/Normal Indeks Broca (Broca Index)

Hampir setiap orang di dunia ini ingin memiliki berat badan yang wajar tidak lebih dan tidak kurang, namun banyak hal dan faktor yang menyebabkan keinginan itu sulit untuk terwujud. Berikut ini adalah rumus cara menghitung berat badan normal dan berat badan yang ideal versi indeks broca. (Gunakan timbangan berat badan yang masih berfungsi dengan baik dan akurat._
Rumus yang di gunakan untuk menghitung Berat Badan Normal adalah l = Tinggi Badan – 100

Contoh :
Jika tinggi kita dari ujung kaki hingga ujung kepala adalah 160 cm maka berat badan normal kita adalah 160 – 100 = 60 kg.

3. Menghitung Berat Badan Ideal

Berat Badan Ideal = (Tinggi Badan – 100) – ( 10% tinggi badan -100)

Contohnya : Jika tinggi badan kita adalah setinggi 150 cm, maka berat badan ideal kita adalah (150 – 100) – (10% x (150 – 100) = 50 – 5 = 45 kg.

Dari hasil tersebut dapat kita ketahui apa yang terjadi dengan diri kita dengan membandingkan hasilnya berikut di bawah ini :

- Kelebihan Berat Badan / Overweight = Hasilnya 10% s/d 20% lebih besar dari yang seharusnya
- Kegemukan / Obesitas / Obesity = Hasilnya lebih dari 20% dari yang seharusnya
- Kurus = Hasilnya 10% kurang dari yang seharusnya

Nah tinggal terserah anda untuk memilih manakah rumus yang pas anda minati , tapi perlu diingat pemilihan rumus bergantung dengan tujuan anda untuk menghitung berat badan anda ..